Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Setiap hari, jutaan anak muda menghabiskan berjam-jam menatap layar, menonton kehidupan orang lain, tanpa pernah benar-benar menjalani kehidupan mereka sendiri.
Anak-anakku yang saya cintai, Bapak/Ibu ingin bertanya, berapa jam dalam sehari kalian menatap layar ponsel?
Rata-rata anak muda Indonesia hari ini menghabiskan tujuh hingga sembilan jam per hari untuk scroll medsos dan stalking media sosial. Tanpa terasa, waktu habis begitu saja. Dan yang lebih mengkhawatirkan bukan hanya soal waktu, tapi soal posisi kita di dalam semua itu.
Kita lebih banyak menjadi penonton daripada pelaku. Kita menonton orang lain sukses, lalu berkomentar. Kita menonton orang lain berkarya, lalu hanya menekan tombol like. Kita menonton orang lain berani bermimpi, lalu kita hanya menyimpan mimpi itu dalam hati tanpa pernah berani melangkah.
Anak-anakku, Bapak/Ibu tidak melarang kalian menggunakan ponsel atau menikmati media sosial. Itu adalah bagian dari zaman yang tidak bisa kita hindari. Tapi ada satu pertanyaan penting yang harus kalian jawab jujur dalam hati.
Apakah aku sedang menjalani hidupku, atau sekadar menonton hidup orang lain?
Kehidupan ini bukan siaran langsung yang bisa kalian tonton dari pinggir layar. Kehidupan ini adalah panggung, dan kalian adalah pemainnya, bukan penonton di barisan belakang.
Setiap pagi yang kalian jalani, setiap pelajaran yang kalian ikuti, setiap keputusan kecil yang kalian ambil, itu semua adalah adegan dalam cerita hidup kalian sendiri. Dan sutradara terbaiknya adalah diri kalian sendiri.
Anak-anakku yang saya banggakan, ada tiga hal yang ingin Bapak/Ibu titipkan pagi ini.
Pertama, jadilah kreator, bukan sekadar konsumen. Gunakan teknologi untuk berkarya, tulis, buat, rekam, ajarkan. Dunia butuh ide kalian, bukan sekadar jempol kalian.
Kedua, investasikan waktu untuk diri sendiri. Baca buku, asah keterampilan, ikuti kegiatan yang membangun karakter. Waktu yang dihabiskan untuk tumbuh tidak akan pernah terasa sia-sia.
Ketiga, beranilah menjadi tokoh utama. Jangan biarkan rasa takut, malas, atau kebiasaan scroll tanpa tujuan menggeser kalian dari peran utama dalam kehidupan kalian sendiri.
Anak-anakku, layar ponsel itu dingin dan datar. Tapi kehidupan nyata itu hangat, penuh warna, dan bermakna. Jangan habiskan energi terbaik kalian di usia terbaik ini hanya untuk menjadi penonton. Matikan sesekali layar itu. Tatap dunia nyata. Dan mulailah bergerak.
Demikian amanat yang dapat Bapak/Ibu sampaikan pada pagi hari ini. Semoga bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.